Perbedaan Laporan Keuangan Komersial dan Fiskal Beserta Contohnya
Menjalankan bisnis bukan sekadar mencatat uang masuk dan uang keluar. Saat musim lapor pajak tiba, banyak pengusaha yang terkejut melihat angka laba di catatan internal ternyata berbeda dengan angka laba yang ditagih oleh kantor pajak.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya terletak pada standar pencatatan yang digunakan. Dalam dunia akuntansi dan perpajakan, perusahaan pada dasarnya harus berurusan dengan dua jenis laporan, yakni versi komersial dan versi fiskal.
Agar Anda tidak bingung, mari kupas tuntas perbedaan laporan keuangan komersial dan fiskal beserta contoh kasusnya berikut ini!
Meski sama-sama berisi angka keuangan perusahaan, kedua laporan ini dibuat untuk audiens dan tujuan yang benar benar berbeda.
A. Laporan Keuangan Komersial
Laporan ini disusun berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK). Tujuan utamanya adalah untuk menilai kinerja dan kondisi finansial bisnis. Laporan ini ditujukan bagi pihak internal dan eksternal bisnis seperti pemegang saham, manajemen, pihak bank, maupun calon investor.
B. Laporan Keuangan Fiskal
Semetara itu, laporan ini ditulis berdasarkan peraturan perpajakan yang berlaku. Tujuan pembuatan laporan ini murni untuk menghitung besaran pajak terutang yang harus disetorkan ke kas negara melalui Direktorat Jenderal Pajak (DJP).
Untuk memudahkan Anda, berikut adalah empat garis besar perbedaan antara keduanya:
Laporan komersial sangat berpedoman pada prinsip dan kelaziman akuntansi yang bersifat lebih fleksibel. Sebaliknya, laporan fiskal harus tunduk secara mutlak pada aturan baku perpajakan yang berlaku di Indonesia.
Secara komersial, semua aliran dana masuk yang menambah kekayaan perusahaan akan diakui sebagai pendapatan. Namun secara fiskal, pendapatan akan dipilah kembali. Ada pendapatan yang merupakan objek pajak, bukan objek pajak, atau pendapatan yang sudah dikenakan pajak bersifat final.
Dalam kacamata komersial, semua pengeluaran yang berkaitan dengan operasional bisnis adalah biaya yang bisa mengurangi laba. Namun, otoritas pajak memiliki aturan Non Deductible Expense. Artinya, ada pengeluaran tertentu yang tidak boleh diakui sebagai pengurang laba fiskal, misalnya biaya untuk kepentingan pribadi pemegang saham atau sanksi denda pajak.
Akuntansi komersial membebaskan manajemen untuk menentukan taksiran umur ekonomis aset dan metode penyusutannya sesuai kondisi riil. Sedangkan secara fiskal, metode penyusutan dan kelompok umur aset sudah ditetapkan dalam tabel baku peraturan perpajakan, di mana Anda hanya boleh menggunakan metode garis lurus atau saldo menurun.
Untuk menjembatani perbedaan laporan keuangan komersial dan fiskal tersebut, akuntan perusahaan harus melakukan proses penyesuaian yang disebut rekonsiliasi fiskal atau koreksi fiskal.
Koreksi ini terbagi menjadi dua, yakni koreksi positif yang menambah laba kena pajak dan koreksi negatif yang mengurangi laba kena pajak.
Berikut adalah contoh penerapannya dalam operasional bisnis sehari hari:
A. Contoh Koreksi Positif
Perusahaan Anda membelikan parsel hari raya untuk klien senilai Rp10.000.000. Secara komersial, uang tersebut diakui sebagai beban promosi sehingga laba perusahaan Anda turun. Namun secara fiskal, pemberian parsel atau natura tidak diakui sebagai biaya. Akibatnya, beban Rp10.000.000 tersebut harus dikoreksi positif alias ditambahkan kembali ke dalam perhitungan laba fiskal.
B. Contoh Koreksi Negatif
Perusahaan mendapatkan pendapatan bunga deposito sebesar Rp5.000.000. Secara komersial, uang ini adalah pendapatan yang menambah laba. Namun secara fiskal, bunga deposito sudah dipotong PPh Final oleh pihak bank. Agar tidak terkena pajak ganda, pendapatan tersebut harus dikoreksi negatif atau dikeluarkan dari perhitungan laba rugi fiskal Anda.
Melakukan rekonsiliasi fiskal dan menyusun laporan pajak perusahaan bukanlah perkara mudah. Salah mengklasifikasikan biaya atau keliru melakukan koreksi positif bisa berakibat pada denda pajak yang sangat merugikan perusahaan Anda.
Daripada pusing memikirkan rumitnya aturan akuntansi perpajakan dan pelaporan SPT, percayakan urusan tersebut pada Ruang Pedia!
Kami menyediakan berbagai pilihan layanan perpajakan yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan Anda:
Hubungi kami hari ini dan pastikan pelaporan pajak Anda aman, akurat, serta tepat waktu!
Dua pilihan yang paling populer di kalangan pebisnis pemula adalah virtual office dan shared office. Meskipun keduanya menawarkan solusi untuk memangkas anggaran operasional, konsep dan fungsi utama dari kedua layanan ini sebenarnya sangat berbeda.
Membangun bisnis bersama rekan atau sahabat memang terlihat menjanjikan pada awalnya. Namun, seiring dengan membesarnya skala perusahaan, masalah pembagian keuntungan dan persentase saham seringkali memicu konflik. Sengketa pemegang saham adalah salah satu krisis berbahaya bagi sebuah entitas bisnis. Jika dibiarkan...