Dalam dunia bisnis yang dinamis, pertumbuhan tidak selalu harus dimulai dari nol. Terkadang, strategi terbaik untuk memperbesar pangsa pasar atau menyelamatkan kondisi keuangan adalah dengan melakukan penggabungan usaha.
Kita sering mendengar berita besar seperti GoTo (Gojek dan Tokopedia) atau Bank Syariah Indonesia (gabungan tiga bank syariah BUMN). Fenomena ini dikenal dengan istilah merger perusahaan.
Secara definisi hukum di Indonesia (UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas), merger dikenal dengan istilah Penggabungan.
Merger perusahaan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh satu Perseroan atau lebih untuk menggabungkan diri dengan Perseroan lain yang telah ada, yang mengakibatkan aktiva dan pasiva (aset dan utang) beralih karena hukum kepada Perseroan yang menerima penggabungan.
Poin Kuncinya:
Hal ini berbeda dengan Akuisisi (Pengambilalihan), di mana kedua perusahaan tetap hidup, hanya kepemilikan sahamnya yang berpindah tangan.
Keputusan untuk melakukan merger biasanya didasari oleh tujuan strategis:
Proses merger sangat ketat dan melibatkan banyak pihak (pemegang saham, karyawan, kreditur, hingga pemerintah). Berikut alur ringkasnya:
Direksi dari masing-masing PT menyusun proposal merger.
Direksi wajib mengumumkan rencana merger di surat kabar harian dan kepada karyawan minimal 30 hari sebelum RUPS. Tujuannya memberi kesempatan kreditur atau karyawan mengajukan keberatan.
Rencana merger harus disetujui oleh RUPS masing-masing perusahaan dengan kuorum kehadiran minimal 3/4.
Dibuat di hadapan Notaris.
Akta perubahan anggaran dasar tersebut harus mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan HAM.
Setelah disahkan, Direksi wajib mengumumkan kembali hasil merger di koran.
Di balik potensi keuntungannya, merger juga membawa dampak signifikan:
Merger adalah proses yang rumit dan berisiko tinggi jika dokumen legalitasnya cacat hukum. Kesalahan dalam pengumuman koran atau RUPS bisa membuat merger dibatalkan oleh pengadilan.
Ruang Pedia siap menjadi mitra legalitas korporasi Anda. Hubungi kami untuk konsultasi lebih lanjut!
Bagi pelaku usaha Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP), memiliki nomor PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga) adalah kunci agar produk bisa masuk ke minimarket, toko oleh-oleh, hingga marketplace besar.
Di era serba digital ini, pelaku usaha pasti akrab dengan berbagai akun layanan pemerintah, mulai dari OSS, DJP Online, hingga sistem e-Faktur. Saat berurusan dengan sistem keamanan tinggi, Anda mungkin pernah diminta membuat atau memasukkan Passphrase.